ASEP SUJAI PETERNAK GONDRONG DARI GUNUNG BONGKOK CINAGARA

a3edd2c9-99fc-4174-a46f-a2adeb5807c8
Asep “Jalu” Sujai (53). Peternak Sapi Potong dan Perah Cinagara Bogor yang bersimbah rezeki milyaran rupiah

BOGOR. DESANEWS. Berperawakan “slimmy”, rambut menjuntai panjang dan berpenampilan cuek. Ia tampak duduk sendiri dan ditemani secangkir kopi panas dan sebungkus rokok.

Jebolan SPP Snakma Bogor tahun 1989 itu terlihat serius menghitung atas gagasan lanjutannya yang akan ekspansi ke luar Bogor Jawa Barat. Ia akan membangun penggemukan sapi kapasitas 200 ekor di Pati Jawa Tengah dengan dana segar kongsi sebesar Rp. 5 milyar.

Asep Sujai (54). Pria empat orang anak yang biasa dipanggil “Jalu” ini tampak bersemangat jika bicara tentang ternak sapi potong dan perah. Bahasanya meledak-ledak, bahkan sesekali tampak urat nadi di kepalanya saat membicarakan sesuatu yang serius.

32e75bab-c2b8-4068-8f71-c846c4b0b56e

“Menjadi peternak itu mengasyikkan. Kalau sudah sampai di farm kita jadi serasa muda sampai tak lagi hapal usia kita sendiri loh!,” katanya dengan logat sunda yang kental sambil terkekeh-kekeh.

Berawal dari info rekan sejawat yang bekerja sebagai pegawai di Balai Besar Pelatihan Kesehatan Hewan (BBPKH) Cinagara tahun 2013. Namanya Tedy Sulistyo, sambungnya bercerita.

Menurut info dari teman itu, ternyata ada kandang sapi tak terpakai yang bisa disewa oleh swasta/ kelompok ternak yang dimasukkan sebagai pendapatan negara bukan pajak.

Setelah di survey ke lokasi dan dihitung ternyata masih menguntungkan secara bisnis, maka dibuatlah kontrak kerjasama sewa dengan pihak BBPKH Cinagara Bogor di tahun 2013.

9a5709d9-6206-4951-8d0c-131a88007569

“Inti dari kerjasama itu, pihak swasta membayar sewa fasilitas, tetapi harus mengijinkan tempat itu dijadikan sebagai fasilitas latihan peserta saat ada program pelatihan di balai. Dan kita oke-oke saja,” ujarnya.

Segera kami membentuk Kelompok Ternak Unggul yang ke depan kami branding “Unggul Farm”.  Dengan team leader 3 orang. Jumlah ternak yang kami pelihara 50 ekor. Semua untuk penggemukan sapi kurban dengan lama pemeliharaan 6 bulan.

Sapi bakalan di dapat dari Jawa Tengah dengan bobot hidup antara 300 – 600 kg/ekor. Jenisnya PO (Peranakan Ongole). Dengan pola pemeliharaan intensif, pertumbuhan bobot badan per ekor minimal 0,7 – 1,2kg/hari.

fb8c0541-37be-4e66-8a23-5fc65fbdf885
Ternak kurban itu harus ganteng dan gagah karena dijual berikut ‘nyawanya’ bukan melulu daging

Kategori pelanggan sapinya rerata 80% adalah pelanggan berulang. Sisanya pelanggan baru musiman. “Padahal harga ternak dari Unggul Farm menurut orang relatif lebih mahal, tapi alhamdulillah mereka tetap menjadi pelanggan setia,” ujar Asep.

Lalu apa rahasianya bisa jual ternak lebih mahal kok malah laris? Pelanggan selalu kami edukasi tentang pola pemeliharaan ternak yang baik. Dari mulai bagaimana membeli sapi bakalan, transportasinya, pemeliharaan saat di kandang baik dari pakannya, vitaminnya, kesehatannya hingga eksterior ternaknya.

Ternak qurban kan, kata Asep, yang dijual bukan dagingnya. tapi performa eksterior dan kesehatannya. Ibaratnya kita menjual “nyawa sapi” berikut bentuk badannya yang gagah dan sehat.

“Jadi tidak ada yang kami main-mainkan saat dipelihara, apalagi pakai hormon dan diglonggong air seperti di tempat lain’” sambung alumnus Fapet UNISMA tahun 1995 itu.

ee5cdb48-cdc5-463c-ac45-465743e619cb

Agar mendapatkan bibit unggul, Unggul Farm membangun permurnian spesies dari sapi Ongole, Limousin dan Simmental. Ada 100 ekor yang sudah disiapkan. Bibitnya kami ambil dari BBIB Lembang.

Tahun 2018, Unggul Farm mencoba peruntungan beternak sapi perah. Ada 60 ekor sapi perah indukan dara bunting yang bibitnya di dapatkan dari Balai Besar Pembibitan Ternak Unggul (BBPTU) Baturaden Jateng.

“Ternak sapi perah itu berbeda dengan sapi potong. Memang lebih rigit. Untuk renovasi kandang saja kami menghabiskan dana Rp 3,5 milyar. Dengan fasilitas kantor, mesin perah otomatis dan laboratorium kira-kira sudah hampir Rp. 5 milyar.

03cdeea9-0d45-4d75-8a52-f9f35186dcd1

Hasil susunya 80% dijual langsung ke end user, biasanya restaurant dan pengrajin pangan berbasis susu. 20% ke Industri Pengolahan Susu. “Kami menjual susu juga di atas harga pasar. Saat ini susu segar hanya dihargai Rp. 5600/ liter sementara susu kami Rp. 7000/liter. Itu karena kualitas susu kami tergolong premium,” akunya.

Saat ini Unggul Farm mulai masuk ke industri hilir dengan membuat yogurt bermerk Subali (Susu Baik Sekali). Kapasitasnya masih kecil baru 5000 – 1000 pack per hari.

1411ec45-3d78-44ab-b9c5-ed71a0546e98
TEFA (Teaching Farm Factory). Pusat Riset Hilir dan Pengolahan Susu. Buah kerjasama Polbangtan Cinagara dengan Unggul Farm.

Ke depan Unggul Farm akan mencoba permen susu karamel dan mozarella. Dan saat ini masih dalam riset untuk mendapatkan tekstur dan rasa yang pas di lidah masyarakat.

“Menjadi peternak itu bukan cuma mengasikkan, tapi juga menguntungkan dan serasa tambah muda. Jangan pernah merasa tua untuk memulai. Lakukan dengan tekun, ulet dan serius, pasti berhasil,” ucapnya tegas.

asep n subali

Leave a Reply